Mengapa Kanker Pankreas Ganas pada Jobs?



Harimau mati meninggalkan belang, Steve Jobs mati meninggalkan Apple dan kanker pankreas. Memang, walaupun kaya dan terkenal seperti Jobs, tubuhnya tak mampu melawan penyakit kanker pankreas.

Pria berusia 56 tahun ini hanya bertahan tujuh tahun setelah menyatakan sembuh dari kanker pankreas neuroendokrin, setelah dibedah pada 2004. Maklum, kanker pankreas jenis neuroendokrin tergolong mudah ditangani dibanding jenis kanker pankreas lain, yang menggerogoti aktor Patrick Swayze hingga meninggal dua tahun lalu.


Meninggalnya penganut Buddha Dalai Lama ini membuat orang ingin tahu banyak tentang penyakit kanker pankreas tersebut. Pembedahan terhadap Jobs waktu itu memang sempat dipandang pesimistis oleh sejumlah ahli medis.

Para ahli itu menduga ketika dilakukan prosedur Whipple atau pengangkatan sebagian dari pankreas--sebagian dari usus halus dan beberapa bagian dari organ pencernaan lain--sebenarnya sel kanker itu sudah menyebar ke kelenjar getah beningnya.

Dugaan sebagian ahli medis ini terbukti ketika beberapa tahun kemudian kondisi Jobs memburuk disertai dengan penurunan berat badan dan kulitnya menguning. Pada Januari 2009, Jobs menyatakan bahwa yang dialaminya hanya ketidakseimbangan hormonal.

Beberapa minggu kemudian, dia dikabarkan menjalani transplantasi lever. Ketika menjalani transplantasi itu sebenarnya merupakan pertanda buruk bahwa kondisi kanker pankreas Jobs belum lagi selesai.

Menurut Kepala Pancreatic Cancer Action Network (PACN), yang berbasis di Manhattan Beach, California, Amerika Serikat, Julie Fleshman, tumor pankreas neuroendokrin, jenis kanker yang diidap Jobs, ini tergolong langka. Hanya 5 persen dibanding seluruh jenis kanker pankreas.

Tingkat bertahan hidup pasien pengidap kanker pankreas juga sangat rendah. Data PCAN menyebutkan 75 persen pasien meninggal setiap tahun pasca-diagnosis dan 94 persen meninggal dalam waktu lima tahun setelah diagnosis.

Mengapa kanker pankreas begitu ganas? Menurut Fleshman kepada Livescience, salah satunya karena tidak adanya metode deteksi dini untuk jenis kanker ini. "Kanker ini biasanya baru terdiagnosis saat sudah terjadi metastasis," katanya.

Pankreas berada jauh di dalam rongga perut bagian belakang, berbentuk tube sepanjang 15 sentimeter, yang bahkan dengan CT scan saja tumor yang berkembang di dalamnya sulit untuk diketahui. Tugas utama pankreas bagi tubuh manusia adalah menghasilkan enzim yang membantu usus memecah makanan dan memproduksi hormon insulin yang meregulasi gula darah. Kanker pankreas adalah penyebab keempat kematian akibat kanker, baik pria maupun wanita.

Mengutip data dari Sol Goldman, John Hopkins Medical Center, dan WebMD, menurut dokter Phaidon Toruan, kanker ini merupakan salah satu kanker yang diam-diam paling mematikan bagi 38 ribu orang Amerika yang terdiagnosis kanker pankreas, dan 34 ribu di antaranya meninggal.

Pada tahap awal terserang kanker, tidak terasa gejala apa pun. Tetapi seiring dengan semakin besarnya pertumbuhan kanker, akan terasa nyeri di perut bagian kiri atas yang menyebar ke belakang. Rasa nyerinya semakin menjadi saat orang yang terserang kanker makan atau berbaring.

Gejala lain yang tampak adalah jaundice alias kuning. Itu terjadi karena ada sumbatan tumor dan menutupi saluran empedu. Tapi semua gejala ini tidak terlalu khas dan bisa diartikan sebagai tanda dari penyakit atau kondisi lainnya.

Angka bertahan hidup menjadi semakin rendah ketika pasien didiagnosis sudah mencapai stadium lanjut. Kurang dari 2 persen pasien yang didiagnosis dengan sel kanker yang sudah menyebar ke beberapa bagian tubuhnya bisa bertahan hingga lima tahun.

Orang-orang dengan tipe tumor seperti Jobs dilaporkan semestinya punya tingkat bertahan hidup yang lebih baik dibanding pasien lain. Sebab, sel tumor pankreas neuroendokrin berkembang biak dengan sangat perlahan dibanding sel tumor pankreas lainnya, misalnya adenokarcinoma.

Ada beberapa faktor risiko yang disebut Phaidon bisa memicu kanker pankreas, misalnya penuaan, kebiasaan merokok, menderita kencing manis (diabetes), keturunan Yahudi Ashkenazi, mutasi genetik BRCA, usia di atas 50 tahun, obesitas, dan kurang berolahraga.

Penyakit diabetes melitus, menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading, Dante Saksono Harbuwono, memicu 6-7 risiko lebih tinggi daripada yang tidak kena penyakit ini. "Hal ini karena terdapat gen faktor transkripsi yang memicu kanker pankreas," ujarnya.

Untuk mencegahnya, dokter menyarankan agar menjalani pola hidup sehat. Terutama mereka yang mempunyai riwayat kanker pencernaan dan anggota keluarga yang punya riwayat kanker pankreas dianjurkan untuk melakukan skrining.

Pada beberapa kasus, selain kanker atau tumor pankreas, pankreas memang bisa diangkat. Tapi, menurut Dante, harus terus dipantau karena berisiko menjadi penyakit diabetes melitus karena pankreas sebagai penghasil insulin sudah tidak ada. Jangan lalai dan terlambat, nanti bisa lewat cepat. Secepat perkembangan teknologi yang ditekuni Steve Jobs.

2 komentar: